Pernah satu masa Kota Madinah dilanda krisis berkepanjangan, akibatnya banyak orang sakit dan jumlah orang miskin terus bertambah. Khalifah Umar Bin Khattab yang merasa paling bertanggung jawab terhadap musibah itu, memerintahkan menyembelih hewan ternak untuk dibagi-bagikan pada penduduk.
Ketika tiba waktu makan, para petugas memilihkan untuk Umar bagian yang menjadi kegemarannya : punuk dan hati unta. Ini merupakan kegemaran Umar sebelum masuk Islam. “dari mana ini ?” tanya Umar.
“Dari hewan yang baru disembelih hari ini,” jawab mereka.


Suatu ketika, tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap. Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar.
Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.
Hari raya adalah saat berbahagia dan bersuka cita. Kebahagiaan dan kegembiraan kaum mukminin di dunia adalah karena Tuhannya, yaitu apabila mereka berhasil menyempurnakan ibadahnya dan memperoleh pahala amalnya dengan kepercayaan terhadap janji-Nya kepada mereka untuk mendapatkan anugerah dan ampunan-Nya. Allah Ta ‘ala berfirman : “Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. ” (Yunus: 58).
Dalam hidup keseharian, kita sangat sering dan merasakan nikmat ketika bercermin. Kita tidak pernah bosan sekali pun. Padahal, wajah yang kita tatap itu-itu juga. Aneh bukan? Bahkan, hampir pada setiap kesempatan, kita selalu menyempatkan diri untuk bercermin. Mengapa demikian? Kita ingin selalu berpenampilan baik, bahkan sempurna. Kita sangat tidak ingin terlihat mengecewakan. Apalagi kusut masai dan berantakan tidak karuan. Ini semua tidak dapat dimungkiri. Penampilan adalah cermin pribadi kita.
Kadang dalam sebuah rumah tangga, tidak lengkap tanpa adanya bumbu sebuah pertengkaran, entah karena suatu hal yang mendasar ataupun karena suatu hal yang kadang kita anggap remeh. Itu semua tergantung bagaimana kita menghadapi dan menyelesaikannya.
Segala puji bagi Allah, yang telah menurunkan kepada hamba-Nya kitab Al-Qur’an sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang muslim. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada hamba dan rasul-Nya Muhammad, yang diutus Allah sebagai rahmat bagi alam semesta.
1. Dalilnya :